Entri Populer

Kamis, 28 Mei 2015

Suku Rohingya yang tertindas

Asia Tenggara, yang dalam pandangan kebanyakan orang adalah inkarnasi dari surga duniawi, tapi bagi suku Rohingya dimana mereka tinggal hari ini bagaikan seperti di neraka
Suku Rohingya kebanyakan Muslim, adalah suku bangsa yang paling teraniaya di dunia sekarang ini. Mereka terpaksa tinggal di kamp-kamp pengungsian di wilayah Myanmar dan Bangladesh, tidak memiliki kewarganegaraan, dan terus-menerus terintimidasi oleh penduduk setempat..
Dalam pencarian kehidupan yang serba keterbatasan suku Rohingya pergi meninggalkan daerahnya untuk mencari kehidupan yang lebih baik dengan cara melarikan diri ke Malaysia dan Indonesia. Menurut catatan yang terdapat di badan dunia PBB , jumlah suku mereka tercatat di mulai pada 2014 sebesar 88 ribu. Setidaknya dua ribu pengungsi ditemukan kematian mereka di laut tenggelam atau meninggal karena kondisi transportasi yang sangat memperihatinkan dengan keterbatasan makan dan minuman.

Ужасы, выпавшие на долю рохинджа (ФОТОРЕПОРТАЖ)
Kuburan massal Suku Rohingya (FOTO)
Setelah di provinsi Thailand Songkhla ditemukan kuburan massal, pemerintah Thailand telah memperketat wilayah -wilayah perbatasan sebagai langkah untuk memerangi perdagangan manusia. Kapal yang bermuatan orang suku Rohingya yang melarikan diri mulai ditangkap dan dikirim kembali ke laut. Masalah migrasi suku Rohingya ini di Asia Tenggara telah berkembang menjadi sebuah bencana kemanusiaan.

Ужасы, выпавшие на долю рохинджа (ФОТОРЕПОРТАЖ)Melarikan diri dengan berlayar mengunakan kapal yang bersesakan mengarungi lautan  (FOTO)

Setelah Thailand,pelarian suku Rohingya juga diblokir Malaysia dan Indonesia. Di perairan internasional diantara kedua negara itu telah mengumpulkan begitu banyak kapal dengan pengungsi. Jumlah mereka mencapai kurang lebih 8 ribu orang. Orang-orang suku Rohinya tersebut harus berada di laut terbuka tanpa makanan dan air. Hanya beberapa mampu berenang ke pantai atau di kapal diselamatkan oleh nelayan setempat. Namun sebagian besar orang dari imigran suku tersebut masih tetap bertahan dilautan.

Ужасы, выпавшие на долю рохинджа (ФОТОРЕПОРТАЖ)
Berlayar dilautan berhari-hari tanpa makanan dan Minuman yang dialami Suku Rohingya (FOTO)
Sebagian besar pengungsi adalah  imigran dari negara bagian Rakin di Myanmar barat. Suku Rohingya adalah Muslim minoritas dan selalu didiskriminasikan oleh mayoritas etnis negara Myanmar. Meskipun Suku Rohingya sudah tinggal di daerah ini selama lebih dari 1000 tahun, pihak berwenang menolak untuk mengakui mereka sebagai warga negara. Akhirya suku Rohingya sebagian besar melarikan diri ke negara-negara lain, di mana setidaknya ada harapan kebebasan untuk hidup juga untuk mencari mata pencaharian  makan untuk diri mereka sendiri dan keluarga mereka.

Ужасы, выпавшие на долю рохинджа (ФОТОРЕПОРТАЖ)
Pengunsi Rohingya terdampar dilautan degan kondisi serba kekurangan makanan dan minuman(FOTO)
Dengan cara mempertahankan hidup sebagian pengunsi melarikan diri ke negara negara yang sebagian mayoritas muslim seperti Malaysia dan Indonesia.  berbagai cara di lakukan para pengungsi dengan melewati Thailand.sungguh menyengsarakan apa yang dialami suku Rohingya dimana para imigran ini sering jadi korban dalam perdagangan orang dan perbudakan . Penyelundup menahan mereka sandera di kamp-kamp khusus, menuntut uang untuk kebebasan. Banyak yang tidak bisa membayar dan tidak punya uang bahkan untuk makanan sekalipun.Banyak orang yang mati dikubur di kuburan massal hanya di kamp-kamp.

Ужасы, выпавшие на долю рохинджа (ФОТОРЕПОРТАЖ)
Seperti inilah kondisi para imigran didalam kapal(FOTO)
Ужасы, выпавшие на долю рохинджа (ФОТОРЕПОРТАЖ)

Di Malaysia, ditemukan 139 kuburan di wilayah 28 kamp pengunsian. para Penyelundup mengangkut orang dari Myanmar dan Bangladesh, yang terdapat di dalamnya para imigran.

Ужасы, выпавшие на долю рохинджа (ФОТОРЕПОРТАЖ)Tragedi yang menimpa Suku Rohingya (FOTO)
Malaysia, Thailand dan Indonesia dalam jangka waktu yang lama menolak untuk menerima para pengungsi, yang menyebabkan bencana kemanusiaan besar. Dua minggu di laut lepas kapal hampir 7 ribu migran yang menderita kekurangan air dan makanan, serta penyakit menular.

Ужасы, выпавшие на долю рохинджа (ФОТОРЕПОРТАЖ)
Tragedi yang menimpa Suku Rohingya (FOTO)
Beberapa pengungsi sementara masih bisa terlindungi di wilayah Indonesia, memberi mereka wilayah di perkebunan kelapa sawit tua.

Ужасы, выпавшие на долю рохинджа (ФОТОРЕПОРТАЖ)Tragedi yang menimpa Suku Rohingya (FOTO)
Sekitar 7.000 pengungsi telah sepakat untuk Indonesia dan Malaysia. Pihak berwenang dari negara-negara ini mengharuskan biaya migran melakukan masyarakat internasional.

Ужасы, выпавшие на долю рохинджа (ФОТОРЕПОРТАЖ)Tragedi yang menimpa Suku Rohingya (FOTO)

Menurut laporan media, saat ini sekitar 7.000 orang masih di Laut Andaman.

Ужасы, выпавшие на долю рохинджа (ФОТОРЕПОРТАЖ)
Tragedi yang menimpa Suku Rohingya (FOTO)
Angkatan Laut Indonesia mulai melakukan operasi penyelamatan sebagai bentuk solidaritasnegara Indonesia dalam memberi bantuan pada  imigran ilegal dari Myanmar dan Bangladesh, dalam perahu yang hanyut di laut terbuka..

Ужасы, выпавшие на долю рохинджа (ФОТОРЕПОРТАЖ)
Tragedi yang menimpa Suku Rohingya (FOTO)

Ужасы, выпавшие на долю рохинджа (ФОТОРЕПОРТАЖ)Tragedi yang menimpa Suku Rohingya (FOTO)
Pihak berwenang Australia menolak untuk menerima para pengungsi. "Kami tidak akan melakukan apa pun yang akan menginspirasi orang dan membuat mereka untuk duduk di perahu (untuk berlayar ke negara-negara tetangga). Jika kita melakukan bahkan hal terkecil yang akan membuat mereka melakukan hal ini, masalah (migrasi ilegal) hanya akan bertambah buruk, "- kata Perdana Menteri Australia Tony Abbott.

Ужасы, выпавшие на долю рохинджа (ФОТОРЕПОРТАЖ)
Tragedi yang menimpa Suku Rohingya (FOTO)

Sungguh keterlaluan jika tragedi kemanusiaan terus berlangsung,sampai kapan anak-anak suku Rohingya yang tak berdosa menjadi korban,sampai kapan suku Rohingya bisa bebas dari penderitaan ini dan bisa hidup sejahtera ayo saudara sesama muslim bantulah semampu kita,selamatkan saudara kita..sumber foto: Reuters, EPA

Tidak ada komentar:

Posting Komentar